Analisis Semiotika Nilai Budaya dalam Tradisi Lisan Etnis Pakpak Mate Ncayur Ntua: Studi Literatur

Authors

  • Claudia Ratna Ningsih Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan
  • Ezra Natasya Hutabarat Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan
  • Siti Fadilah Aini Siregar Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan
  • Yasinta Theresya Claudia Malau Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan
  • Yuliana Sari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Medan

DOI:

https://doi.org/10.46918/idiomatik.v9i1.3436

Abstract

Tradisi lisan merupakan bagian penting dari warisan budaya takbenda yang berfungsi sebagai media pewarisan nilai, norma, dan identitas budaya suatu masyarakat. Salah satu tradisi lisan yang masih dipertahankan oleh masyarakat Pakpak di Sumatera Utara adalah Mate Ncayur Ntua, yaitu upacara adat kematian bagi orang tua yang telah lanjut usia dan menyelesaikan tanggung jawab sosialnya dalam keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai budaya yang direpresentasikan dalam tradisi lisan Mate Ncayur Ntua melalui perspektif semiotika Charles Sanders Peirce. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi literatur. Data diperoleh dari artikel ilmiah, buku, skripsi, prosiding, dan dokumen akademik yang relevan dengan tradisi lisan Pakpak, semiotika budaya, dan Mate Ncayur Ntua. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan mengacu pada klasifikasi tanda Peirce yang meliputi ikon, indeks, dan simbol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk-bentuk tanda yang dominan dalam tradisi lisan Mate Ncayur Ntua meliputi Tangis Milangi, Peseh-peseh, pemberian ulos, Gendang Si Sangkar Laus, dan pemanggilan nama almarhum. Tanda-tanda tersebut didominasi oleh kategori indeks dan simbol. Analisis semiotika menunjukkan bahwa tradisi lisan Mate Ncayur Ntua merepresentasikan nilai penghormatan, spiritualitas, solidaritas sosial, tanggung jawab keluarga, dan identitas budaya. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Mate Ncayur Ntua tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari ritual kematian, tetapi juga sebagai media transmisi nilai budaya dan pelestarian identitas etnis Pakpak.

References

Bancin, R. Y. (2019). Fungsi dan makna Tangis Milangi pada upacara Mate Ncayur Tua etnis Pakpak di Desa Lae Langge Namuseng Kecamatan Si Telu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat [Skripsi sarjana, Universitas Negeri Medan]. Universitas Negeri Medan.

Chandler, D. (2025). Semiotics: The basics (5th ed.). Routledge.

Cibro, S. G., Wuriyani, E. P., & Harahap, R. (2022). Analisis kajian semiotika tradisi lisan budaya Pakpak “Meneppuh Babah.” Sintaks (Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia), 2(1), 131–136.

Danesi, M. (2004). Messages, signs, and meanings: A basic textbook in semiotics and communication. Canadian Scholars' Press.

Desiani, I. F. (2022). Simbol dalam kain ulos pada suku Batak Toba. Jurnal Ilmu Budaya, 18(2), 127–137.

Eco, U. (1976). A theory of semiotics. Indiana University Press.

Firmando, H. B. (2021). Kearifan lokal tenun tradisional ulos dalam merajut harmoni sosial di kawasan Danau Toba. Jurnal Sosiologi Agama Indonesia, 2(1), 1–18.

Jurdi, S., & Amiruddin. (2024). Analisis peran tradisi lisan dalam pelestarian identitas budaya lokal: Studi kasus pada masyarakat adat di Indonesia. Central Publisher, 2, 1692–1698.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). SAGE Publications.

Nababan, J. P., & Purba, M. (2024). Deskripsi fungsi dan interaksi simbolik Gendang Si Sangkar Laus dalam upacara kematian Ncayur Ntua pada masyarakat Pakpak Bharat. Innovative: Journal of Social Science Research, 4(3), 14320–14338. https://doi.org/10.31004/innovative.v4i3.12212

Nöth, W. (1990). Handbook of semiotics. Indiana University Press.

Nursugiharti, T., & Rohim. (2024). Studi literatur: Tradisi lisan sebagai nilai budaya keberagaman di berbagai daerah Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Indonesia, 1(3), 290–298.

Peirce, C. S. (1931–1958). Collected papers of Charles Sanders Peirce (Vols. 1–8). Harvard University Press.

Setkab. (2020, December 17). Warisan budaya takbenda Indonesia diakui dunia. https://setkab.go.id/warisan-budaya-takbenda-indonesia-diakui-dunia/

Sibarani, R. (2015). Pendekatan antropolinguistik terhadap kajian tradisi lisan. Retorika: Jurnal Ilmu Bahasa, 1(1), 1–17.

Sinaga, A. (2024). Upacara adat Ncayur Tua pada etnik Pakpak: Kajian kearifan lokal. Universitas Sumatera Utara.

Tinambunan, E. R. L. (2023). Batak Toba ethnic in Indonesia as a locus theologicus: Exploring the spiritual, wisdom and aesthetic values of Ragi Idup ulos. International Journal of Indonesian Philosophy & Theology, 4(1), 53–63. https://doi.org/10.47043/ijipth.v4i1.47

Wulandari, A. (2023). Semiotika Peirce dalam mitos khasiat Air Pancuran Tujuh sastra lisan Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pujangga, 9(2), 187–196.

Downloads

Published

12-06-2026

How to Cite

Ningsih, C. R., Hutabarat, E. N., Siregar, S. F. A., Malau, Y. T. C., & Sari, Y. (2026). Analisis Semiotika Nilai Budaya dalam Tradisi Lisan Etnis Pakpak Mate Ncayur Ntua: Studi Literatur. Jurnal Idiomatik Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 9(1), 90-100. https://doi.org/10.46918/idiomatik.v9i1.3436