Tindak Tutur Asertif Pencemaran Nama Baik Di Sosial Media

Linguistik Forensik

  • Fatahuddin Fatahuddin Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin
  • Ery Iswary Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin
  • Firman Saleh Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin
Keywords: Tindak Tutur Asertif, Pencemaran Nama Baik, Sosial Media

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan bentuk tindak tutur asertif pencemaran nama baik di Sosial Media. Hasil penelitian juga menemukan bentuk tindak tutur yang terdapat dalam tuturan di media sosial facebook dan twitter yang mengandung pencemaran nama baik bentuk asertif yang terdiri dari; menyatakan, pada data tuturan 1 penutur menyatakan bahwa: Asu asunna fammarentaee aro demo, malihaseng manenngi sappa kabuttu (Anjing-anjingnya pemerintah yang demo, sedang kelaparan mencari tulang). Maksud dari tuturan tersebut, penutur menyatakan bahwa Aliansi Pemuda Pembela NKRI Demo Tolak HRS merupakan anjing-anjingnya pemerintah yang sedang kelaparan mencari tulang. Pada data tuturan. Menyindir, data tuturan 2 digunakan penutur untuk menyindir objek tutur (Ustad Lutfhi Bin Yahya) dengan menggunakan kalimat “tambah cantik pake jilbab. Sindiran tersebut dituturkan penutur dengan mengomentari foto objek tutur dengan mengatakan hal yang bertentangan dengan menggunakan kata cantik dan jilbab yang seharusnya ditujukan kepada wanita.

References

Achmad dan Abddullah. (2012). Linguistik Umum. Jakarta: Erlangga.

Akbar, Syahrial Rahmandika. (2008). Peran Media Sosial dalam Perubahan Gaya Hidup Remaja di SMA Muhammadiyah 3 Surabaya. Tesis. Surabaya: Universitas Airlangga.

Alwasilah. (1985). Beberapa Madhab dan Dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa.

Anwar, Mohammad. (1994). Praktek Peradilan Pidana di Indonesia. Jakarta: Buku Kompas.

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineke Cipta.

Ahmad, Amar dan Nurhidaya. (2020). Media Sosial dan Tantangan Masa Depan Generasi Milenial. Avant Garde, Vol. 08 No. 02, Desember 2020, 134-148.

Bakhtiar, Subhandi Handar. (2018). Hakikat Bedah Mayat (Autopsi Forensik) dalam Proses Penyidikan Tindak Pidana. Disertasi. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Budiawan dan Mualafina. (2016). Kajian Linguistik Forensik Tuturan Artis Zaskia Gotik dalam Kasus Penghinaan Lambang Negara. Seminar Internasional Isu-isu Mutakir dalam Kajian Bahasa dan Sastra, FIB UGM Yogyakarta.

Cahyono. (2016). Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Indonesia. Jurnal Publiciana, 9(1), 140-157.

Cazim, dkk. (2019). Analisis Wacana Kritis Berita Politik Fajar Cirebon Edisi November 2018. Jalabahasa, 15(II), 130-146.

Chaer, Abdul. (2014). Linguistik Umum. Jakarta: Rineke Cipta.

Chaer dan Agustina. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan awal: Edisi Revisi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Chazawi, Adawi. (2009). Tindak Pidana, Teori-teori, Pemidanaan dan Batas Berlakunya Hukum Pidana. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Coulthard, M., & Johnson, A. (2007). An Intoduction to Forensic Linguistics Language in Evidence. New York: Routledge Taylor & Francis Group.

Djajasudarma, Fatimah T. (2003). Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Eresco.

Gustam. (2015). Karakteristik Media Sosial dalam Membentuk Budaya Populer Korean Pop di Kalangan Komunitas Samarinda dan Balikpapan. eJournal Ilmu Komunikasi, 3(1), 224-242.

Gustiana, Dodi. (2019). Dugaan Penghinaan dan Pencemaran Nama Baik pada Cuitan Ade Armando di Twitter (Kajian Linguistik Forensik). Tesis. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia

Halim, M. dkk. (2009). Menggugat Pasal-pasal Pencemaran Nama Baik. Jakarta: LBH Press.

Hamzah, Hasan. (2012). Ancaman Pidana Islam terhadap Penyalahgunaan Narkoba. Al-Daulah. Jurnal Hukum Pidana dan Ketatanegaraan, 1(I), 149-155.

Ilyas, Amir. (2012). Asas-asas Hukum Pidana. Yogyakarta: Rangkang Education Yogyakarta dan Pukap Indonesia.

Iskandar. (2009). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: Gaung Persada Press.

Juditha. (2017). Hatespeech di Media Online: Kasus Pilkada DKI Jakarta 2017. Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik. 21(2), 137-151.

Kaplan dan Haenlein. (2014). Users of the world, unite! The Challenges and Opportunities of Social Media. Business Horizons.

Kridaklaksana. (2011). Kamus Linguisik. Jakarta: Gramedia.

Leech. (2011). Prinsip-prinsip Pragmatik. Jakarta: Universitas Indonesia.

Mahsun. (2018). Linguistik Forensik Memahami Forensik Berbagai Teks dengan Analogi DNA. Depok: Rajawali Pers.

Malabar, Sayama. (2015). Sosiolinguistik. Gorontalo. Ideas Publishing.

Marpaung. (2010). Asas Teori dan Praktik Hukum Pidana. Jakarta: Sinar Grafika.

Mintowati. (2016). Pencemaran Nama Baik: Kajian Linguistik Forensik. Paramasastra, 27-37.

Nababan. (1993). Ilmu Pragmatik. Jakarta: P2LPTK Dikbud.

Nasrullah, R. (2015). Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Nadar. (2009). Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta. Graha Ilmu.

Olsson. (2008). Forensic Linguistics (second edition). New York: Continuum International Publishing Group.

Parera. (2004). Teori Semantik Edisi Kedua Jakarta: Erlangga.

Pateda. (2001). Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa.

Purba, Amir dkk. (2010). Pengantar Ilmu Komunikasi. Medan ; Pustaka Bangsa Press.

Purbohastuti. (2017). Efektivitas Media Sosial sebagai Media Promosi. Tirtayasa Ekonomika, 12(2), 212-231.

Pusat Bahasa. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Putra, Agung Anak. Pencemaran Nama Baik. (2015). Litera Bahasa dan Sastra. 14(1), 68-73.

Rahman, Zulfa Indana Nadhifa. (2019). Penggunaan Kata Tabu di Media Sosial: Kajian Linguistik Forensik. Semiotika, 21(2), 120-128.

Rasyid, Vebryanti. (2014). Tinjauan Yuridis terhadap Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Tulisan. Tesis. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Rusdiansyah. (2020). Hukum dan Linguistik Forensik. Al-Amwal: Journal of Islamic Economic Law 5(1). Institut Agama Islam Negeri Palopo.

Saifudin, Akhmad. (2019). Teori Tindak Tutur dalam Studi Linguistik Pragmatik. Lite Jurnal, 15(I), 2.

Setyaningrum, Gita Dini. (2015). Hubungan Penggunaan Media Jejaring Sosial dengan Prestasi Belajar Mahasiswa di Fakultas Ilmu Pendidikan. Tesis. Malang: Universitas Negeri Malang.

Soesilo. (1996). Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Bogor: Politeia.

Subyantoro. (2019). Linguistik Forensik: Sumbangsih Kajian Bahasa dalam Penegakan Hukum. ADIL Indonesia Journal, 1(1), 36-50.

Sudyana dan Utami. (2015). Etika dan Profesionalisme Saksi Ahli. Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia.

Sugiarto, Sri dan Qurratulaini, Rini. (2020). Potensi Kriminal Cyber Crime pada Meme: Sebuah Kajian Linguistik Forensik. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 7(I), 46-57.

Sugiono. (2011). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sulianta. (2015). Keajaiban Sosial Media. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Sulastryani. (2021). Peran Penyidik Dalam Penanganan Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik Melalui Media Sosial (Studi Kasus Polres Palopo). Jurnal To Ciung: Jurnal Ilmu Hukum Volume 1, Nomor 1, Agustus 2021

Susanto, (2017). Dekonstruksi dan Geraan Pemikiran Hukum Progresif. Yogyakarta: Thafa Media.

Susanto, Eko Harry. (2017). Media Sosial Sebagai Pendukung Jaringan Komunikasi Politik. Jurnal ASPIKOM, Volume 3 Nomor 3, Juli 2017, hlm 379-398

Sutopo. (2002). Pengantar Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Tim Literasi Nusantara. (2020). Undang-Undang ITE Informasi dan Transaksi Elektronik. Batu: Literasi Nusantara.

Verhaar. (2016). Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Widyasari. (2013). Analisis Pragmatik dalam Penelitian Bahasa. Malang: Universitas Negeri Malang.

Yule. (1996). Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Published
2022-06-22
How to Cite
Fatahuddin, F., Iswary, E., & Saleh, F. (2022). Tindak Tutur Asertif Pencemaran Nama Baik Di Sosial Media. Jurnal Idiomatik: Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 5(1), 8-22. https://doi.org/10.46918/idiomatik.v5i1.1412